Semesta Menyala, Langkah Kolaboratif Menuju Net-Zero Emission
Sumber Gambar :Semesta Menyala, Langkah Kolaboratif Menuju Net-Zero Emission
Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Banten dan Perusahaan Listrik Negara (PLN) menyatakan komitmennya dalam menekan emisi gas guna pencapaian target net zero emission di tahun 2060.
Komitmen ini dibuktikan dengan penandatanganan Memorandum of Agreement (MoA) tentang pengembangan potensi daerah dalam mendukung transisi energi dan pencapaian target net zero emission yang terintegrasi dengan program pemberdayaan masyarakat dalam rangkaian rencana aksi perubahan pendidikan penguatan perencanaan lingkungan hidup kolaboratif melalui ‘Semesta Menyala’.
MoU ini ditandatangani oleh enam pihak sekaligus yaknI DLHK Banten, PLN indonesia power, PLN Energi Primer Indonesia, Baznas Provinsi Banten, Fakultas Kehutanan dan Lingkungan Institut Pertanian Bogor dan Perum Perhutani KPH Banten menandatangani MoA di kantor DLHK Banten, KP3B, Kota Serang pada Rabu 4 Desember 2024.
Kepala DLHK Banten Wawan Gunawan mengatakan, Semesta Menyala ini merupakan rencana aksi yang disusun oleh Kepala Bidang Penataan dan Peningkatan Kabid Penataan dan Peningkatan Kapasitas DLHK Banten Irwan Setiawan dalam diklat pelatihan kepemimpinan administrator.
Rencana aksi ini akan memadukan langkah kolaboratif antara DLHK, dan PLN dalam menekan emisi karbon yang dihasilkan dari aktivitas pembangkit listrik tenaga uap alias PLTU berbasis batu baru.
“Dalam rencana aksi ini kita mencoba menekan emisi karbon melalui penggunaan biomassa sebagai bahan bakar alternatif pada PLTU dengan metode co-firing, yaitu pencampuran batubara dengan biomassa,” kata Kepala DLHK Banten.
Ia menuturkan, pengembangan biomassa untuk co-firing dapat dioptimalkan melalui budidaya kayu energi. Kayu energi dapat berfungsi sebagai biomassa pengganti sebagian batubara, sehingga mengurangi emisi karbon dan ketergantungan pada bahan bakar fosil. Namun, ekosistem bisnis kayu energi di Provinsi Banten saat ini belum terbentuk dengan baik. Harga kayu energi yang relatif rendah menjadi tantangan bagi keberlanjutan program ini.
“Oleh karena itu, perlu adanya integrasi pengembangan kayu energi dengan program pemberdayaan masyarakat untuk menciptakan nilai tambah yang tidak hanya menyediakan biomassa sebagai bahan bakar alternatif, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat di pedesaan,” tuturnya.
“Dalam MoA ini kita bersepakat untuk membuat rencana aksi dalam pemberdayaan masyarakat guna menciptakan nilai tambah yang tidak hanya menyediakan biomassa sebagai bahan bakar alternatif, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat di pedesaan,” sambungnya.
Kepala Bidang Penataan dan Peningkatan Kabid Penataan dan Peningkatan Kapasitas DLHK Banten Irwan Setiawan menambahkan. Semesta Menyala ini merupakan kepanjangan dari sinergi masyarakat untuk edukasi transisi aman, menuju emisi nol yang adaptif dan berkelanjutan. Rencana aksi ini dirinya susun dalam diklat pelatihan kepemimpinan administrator.
“Rencana aksi ini menghubungkan industri yang mempunyai kewajiban pengelolaan emisi dengan kelompok tani, serta menghubungkan kelompok tani dengan filantropi yang akan membantu pemberdayaan untuk menguatkan kegiatan-kegiatan penyerapan karbon oleh tanaman sebagai bagian upaya dari penurunan emisi menuju net zero emission dan menjadi bagian dari kontribusi provinsi banten dalam penanggulangan perubahan iklim,” jelasnya.
MoA ini mencangkup 13 ruang lingkup yang meliputi jaminan pembelian dan pemanfaatan bahan bakar biomassa oleh PLN, rehabilitasi lahan kritis dengan mengembangkan tanaman bahan baku bahan bakar biomassa, hingga pelatihan dan penyuluhan penanaman tanaman multifungsi kepada masyarakat dan kelompok tani yang terlibat dalam pengembangan tanaman bahan baku bahan bakar biomassa, tanaman kayu-kayuan dan tanaman multifungsi oleh para pihak.
Kata Irwan, kayu energi juga nantinya dapat dipanen untuk program co-firing di industri pengguna batubara seperti PLTU, sehingga dapat mengurangi penggunaan bahan bakar fosil, artinya akan ada pengurangan penggunaan batu bara, dan emisi yang ditimbulkan pun dapat dikurangi.
“Masyarakat yang menanam kayu energi juga dapat menjualnya dalam bentuk biomassa untuk tambahan pendapatan petani, ditambah dengan program penguatan pemberdayaan dalam bentuk ternak kambing/domba, ada Baznas dan IPB yang terlibat, sehingga akan lebih menguatkan kegiatan pemberdayaan masyarakat yang dilakukan.
Vice President Biomassa PLN Energi Primer Indonesia Erfan julianto mengatakan, MoA ini akan pihaknya implementasikan dalam penanaman pohon energi yang akan dilakukan dalam jangka waktu dekat dibeberapa PLTU yang ada di Banten. Nantinya, pihaknya akan memberikan bantuan berupa bibit pohon energi itu kepada warga, yang selanjutnya pohon itu akan pihaknya beli kembali untuk digunakan sebagai biomassa.
Ia berharap, program ini dapat memberikan manfaat untuk masyarakat luas dengan skema pemberdayaan masyarakat berbasis ekonomi kerakyatan dan memberikan dampak positif bagi pembangkit listrik untuk mewujudkan pengurangan emisi yang dihasilkan.
“Disadari upaya yang dilakukan ini masih langkah awal yang masih sangat kecil, tapi tentu saja tidak menapikan upaya-upaya yang terus dilakukan para pihak untuk bisa menemukan keseimbangan antara ketergantungan kita terhadap energi fosil dengan kemampuan kita untuk melakukan adaptasi terhadap perubahan iklim dengan teknologi- teknologi yang lebih ramah terhadap lingkungan.Serang,06 Desember 2024.