• Friday, 22 September 2017
  • DLHK Banten Membangun


    Dinas Lingkugan hidup dan Kehutanan   Provinsi Banten dibentuk berdasarkan Peraturan Daerah No 4 Tahun 2016 tentang Pembentukan Organisasi dan Perangkat Daerah (OPD) Provinsi Banten. Pada tahun 2016 Struktur Organisasi Dinas Lingkungan Hidup  dan Kehutanan   Provinsi Banten memiki 10 lembaga setingkat eselon III yang membwawahi 30 eselon IV dan Kelompok Jabatan Fugsional Penyuluh Kehutanan.

    Pengelolaan LH dan hutan   di Provinsi Banten melibatkan banyak kepentingan (Multy  Stakeholders), Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Banten merupakan salah satu pemangku kepentingan yang bertindak dalam pelayanan publik (Publik Service) yang terkait dengan kesehatan dan kesejahtran masyarakat.  .

    Provinsi Banten memiliki potensi sumber daya alam cukup besar, kaya akan keanekaragaman hayati (biodiversity) berupa flora dan fauna dan tipe ekosistem yang cukup variatif.

    Luas Kawasan Hutan di Provinsi Banten

    No 

    Pengelola

    Hutan Produksi

    Hutan Lindung

    Hutan Konservasi

    Jumlah

    1

    2

    3

    4

    5

    6

    KPH Banten

    KPH Bogor

    Balitbang

    BBKSDA

    TNGHS

    TNUK

    69.266

    -

    3.026

    0

    0

    0

    7.879

    1.591

    0

    0

    0

    0

    0

    0

    0

    4.853

    42.925

    78.619

    77.145

    1.591

    3.026

    4.853

    42925

    78..619

     

     

    72.292

    9.471

    126.397

    208.161

     

    Selain kawasan hutan tersebut terdapat pula kawasan ulayat suku baduy yang merupa-kan kawasan cagar budaya seluas 5.105 ha.

    Di Provinsi Banten  terdapat 2 Taman Nasional yaitu Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS). dan Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) yang merupakan kawasan konservasi dunia, memiliki keanekaragaman hayati  baik flora  maupun fauna dan berbagai tipe vegetasi serta merupakan perwakilan ekosistem hutan hujan tropis dataran rendah yang tersisa dan terluas di Pulau Jawa.

    Kondisi ini merupakan habitat yang ideal bagi kelangsungan hidup satwa langka seperti Badak bercula satu (Rhinoceros sondaicus) yang merupakan satu dari lima jenis badak yang masih ada di dunia.

    Selain Badak, terdapat juga seperti Banteng  (Bos Javanicus), Kijang (Mantiacus mancak), Macan Tutul (Panthera pardus Owa Jawa (Hylobates moloch), Kukang (Nynycebus coucang) dan jenis flora langka lainnya.

    Kerusakan lingkungan  secara langsung maupun tidak langsung mempunyai dampak buruk dan potensi bencana bagi kesehatan akibat pencemaran air dan udara, begitu rusaknya lingkungan akibat penggunaan lahan yang tidak memperhatikan kaidah konservasi tanah dan air akan mendorong timbulnya bencana banjir dan longsor di saat musim penghujan dan kekeringan di musim kemarau.

    Rehabilitasi dan Konservasi Lahan

    Salah satu ancaman serius dan permasalahan lingkungan yang dihadapi manusia saat ini adalah pemanasan global dan perubahan iklim. Berbagai tindak pengrusakan terhadap lingkungan selain meng-akibatkan pemanasan global juga mengakibatkan kerusakan ekosistem dan kualitas lingkungan hidup, hilangnya biodiversity serta menurunnya kesejahteraan masyarakat saat ini dan generasi di masa mendatang.

    Disadari hal itu maka diambil langkah konkrit sebagai antisipasi keru-sakan lebih lanjut serta memperbaiki kualitas sumber daya hutan dan lahan.

    Salah satu upaya tersebut dilakukan melalui pengembangan hutan rakyat, pengembangan tanaman bamboo, pemanfaatan lahan di bawah tegakan serta pemsuksesan gerakan penanaman pohon yang dalam pelaksanaannya telah dilakukan oleh masyarakat secara swadaya. . Keberhasilan tersebut tidak terlepas dari dukungan seluruh lapisan masyarakat, baik dari unsur pemerintah, swasta maupun masyarakat lainnya. Selain itu dilakukan pula Pengembangan Taman Hutan Raya (Tahura) yang telah di mulai   sejak tahun 2006 dan saat ini sudah tebentuk lembaga pengelola Tahura yaitu Balai Pengelolaan Taman Hutan Raya ( TAHURA) Banten.

    Peningkatan Produk Hasil Hutan Bukan Kayu ( HHBK)

    Pengembangan Budi Daya Jamur Kayu, lebah madu (Afis Cerana, Trigona/Lanceng)  dari aspek ekonomi berperan cukup besar dalam rangka perbaikan   ekonomi masyarakat. Dari aspek ekologi dapat mendukung kelestarian sumberdaya alam dan lingkungan hidup.

    Pengembangan HHBK dilakukan dengan peningkatan produksi jamur dan madu yang terus meningkat sejalan dengan tinginya animo masyarakat dalam budi daya jamur dan madu terutama budi daya lebah lanceng (Trigona). Dan budidaya jamur tiram putih, karena pengelolaan mudah dan murah.

    Program pengembangan  dilaksanakan melalui pola Cluster yang diwujudkan dalam bentuk kampung lanceng dan lembur Jamur. Pola dan bentuk kampung Lanceng dan lembur jamur ini dimaksudkan untuk meng-arahkan masyarakat    atau pelaku usaha dalam memajukan komoditas HHBK serta mendorong masyarakat petani dan pelaku usaha untuk membuka usaha dan investasi baru dalam pengembangan komoditas unggulan, bahkan saat ini sudah ada pusat pelatihan budi daya jamur di KTH Fina sari cadasari

    Untuk mengatasi masalah tersebut  Dinas Lingkunga idup dan Kehutanan,   melakukan beberapa kegiatan, antara lain : Pelatihan, sosialisasi  , bimbingan tehnik tentang Lingkungan Hidup hutan   Kegiatan ini untuk meningkatkan kemampuan dan kualitas SDM para petani dan masyarakat yang pada akhirnya dapat meningkatkan taraf hidupdan kesejahtraannya

    Budaya menanam tanaman kehutanan bagi masyarakat Indonesia sejak jaman dahulu memang tidak ada bahkan bagi masyarakat dunia sekalipun. Budaya menanam tanaman keras/tahunan atau tanaman industri mungkin baru ada sejak jaman tanam paksa.

    Untuk membudayakan sesuatu dimulai dari generasi muda, maka diwujudkanlah kegiatan Kebun Bibit Sekolah. Kegiatan ini merupakan kegiatan untuk menumbuh kembangkan minat dan kemandirian generasi muda khususnya anak sekolah dalam mencintai tanaman dan menanam  sehingga disekolah belajar cinta lingkungan dengan dukungan program adiwiyata.

    Penumbuhan Sarana Penunjang

    Komponen utama dari perkembangan dan pertumbuhan tanaman kehutanan   adalah organisasi yang efisien secara teratur dalam menyediakan benih berkualitas tinggi dari jenis yang unggul dalam jumlah yang cukup banyak untuk memenuhi kebutuhan petani dan masyarakat.

    Wujud dari itu adalah dengan membangun persemaian permanen yang dilekola oleh Balai Perbenihan Kehutanan.  Bentuk lain yakni pembinaan penangkar benih, fasiltasi bibit unggul yang disalurkan langsung kepada petani komoditas, dan pembinaan penangkar  serta sosialisasi menejemen benih. ( bersambung).

    *) Penyuluh Kehutanan  –DLHK Banten

    Oleh Useop Witarsa *) 


    Jadwal Sholat


    Prakiraan Cuaca


    Twitter


    Facebook


    Tentang Kami


    Peta


    Statistik Kunjungan


    Kritik dan Saran